26 November 2005

Tragedi Akademik paling Memalukan

*dapet dari milis DRS. What a shame..*

Date: Thu, 24 Nov 2005 03:25:37 -0800 (PST)
From: tersenyum
To: imc-jakarta@lists.indymedia.org
Subject: [Indymedia-jakarta] Tragedi Akademik paling memalukan

Tragedi Akademik paling Memalukan

Senin, 23 November 2005, sekitar pukul 11.15-an, di hall Universitas Islam Negeri (IAIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta, saya kira bisa dibilang sebagai "insiden akademik yang paling memalukan tahun ini". Dalam diskusi publik "Refleksi Sosial Agamawan terhadap Kenaikan Harga BBM di Indonesia" itu hadir sebagai pembicara Prof. DR. Musa Ansyari, Ustadz Ja'far Umar Thalib, dan DR. George Junus Aditjondro. Sedang Prof. DR. Mochtar Mas'ud tidak bisa hadir.

Seperti biasa, ketiga pembicara memberi paparan awal sebagai pengantar diskusi. Dua akademisi, Musa dan Aditjondro, melengkapi paparan dengan makalah lengkap beserta data-data. Aditjondro dengan makalah "Disandera Kabinet Pedagang Migas: Membongkar Kepentingan-kepentingan Domestik dan Internasional di Balik Kenaikan Harga BBM di Indonesia", dan Prof. Musa dalam kapasitasnya sebagai representasi Departemen Komunikasi dan Informatika memberi dalih lewat "Latar Belakang dan Kebijakan Mengenai BBM". Sedang Ja'far melisankan semua paparannya, tentu dengan perspektif agama Islam.

Pada saat sesi tanya jawab, ada 5 penanggap dari floor yang dengan segera direspon balik oleh ketiga pembicara, dimulai dari Musa, Ja'far dan terakhir Aditjondro. Musa senderung defensif dan membela pemerintah. Memang itulah wilayahnya. Tak menjadi soal.

Ja'far menjawab dengan pendekatan norma2 agama seperti laiknya ustadz yang baik. Nah, ketika respon balik inilah Aditjondro mencoba memberi perluasan cakupan persoalan dengan membeberkan banyak (kemungkinan) praktik konspirasi dalam banyak kasus bisnis militer dalam industri perminyakan di Indonesia. Hingga ihwal dugaan Prabowo yang memiliki dua kaki di Laskar Jihad dan kelompok Nasrani dalam konflik Maluku untuk menjaga keberlangsungan bisnis minyaknya di sana. Semua dipaparkan dengan runtut beserta dukungan data dan argumentasi yang masuk akal. Beberapa kali respon riuh dari audiens menimpali paparan Aditjondro ini. Juga ketika itu Aditjondro dengan cukup panjang memberi perspektif Islam dari garis pemikiran Arkoun (dan pemikir Islam progresif lain) untuk dibumikan dalam menyikapi problem sosial di tanah air. Juga tentang resistensi Gus Dur, dan lainnya deh...


Nah, ketika sesi kedua akan dibuka oleh moderator inilah, tiba-tiba Ja'far meminta waktu untuk bicara kembali. Di sinilah awal "tragedi" itu terjadi. Ja'far langsung membuka responsnya dengan: "Kita telah mendengarkan gosip gaya ibu-ibu PKK dari intelektual bernama doktor George Aditjondro". Audiens segera terhenyak. Mereka kaget. Suara Ja'far lambat laun makin keras, intonasinya kian tegas, jarinya sesekali menunjuk-nunjuk, juga mengepalkan tangan kanannya. Audiens segera merespons dengan melontarkan kata2: "Bubar saja! Sudah tidak kondusif!" Atau "Huuuu, payah!", "Tidak intelek!" dan lainnya. Sementara beberapa pendukung Ja'far berteriak: Allahu Akbar, Allahu Akbar!!
Moderator yang suaranya mungil tak digubris Ja'far.


Sebaliknya Ja'far kian tak terkontrol. Bicaranya kemana-mana!
Antara lain, "Siapa yang mendalangi kerusuhan Maluku? Gereja!!! Pendeta Damanik-lah dalang kerusuhan di sana!"
"Gus Dur Jangan Dipercaya! Gus Dur Adalah Presiden Paling Sinting dalam Sejarah Indonesia!!!"
"Siapa yang Teriak-teriak itu, Marilah Berkelahi dengan Saya Setelah Acara Ini!"
, teriaknya lantang sembari berdiri dan tangan kanannya menggebrak meja.


Diskusi betul2 kalang kabut. Mahasiswa UIN yang kemungkinan berbasis organisasi PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Ind yang berafiliasi ke NU) berteriak riuh-rendah. Wajar, wong Gus Dur dilecehkan. Anak2 buah Ja'far demikian juga. Mereka teriak dan menuding agar mahasiswa jangan kabur (seperti mau menantang berkelahi). Untung saja belum ada kursi yang melayang. Dan moderator dengan segera membubarkan acara setelah Ja'far berhenti bicara, bukan menghentikan bicaranya. Musa segera merangkul Ja'far dan memisahkan diri dari moderator dan DR. Aditjondro. Ja'far masih terlibat perbincangan dengan Musa dan beberapa dosen UIN. Sementara puluhan mahasiswa/i ramai2 mendekati DR Aditjondro untuk menyalami, dan beberapa di antaranya berucap: "Saya mendukung Anda, Pak!" Beberapa malah langsung meminta nomor hape.

Silakan Anda akan memberi penilaian atas insiden tersebut. Sementara bagi saya , kasus ini kiranya telah memberi gambaran yang cukup jelas bahwa,
  1. (beberapa) sosok pemimpin umat Islam di Indonesia belum mampu menyiapkan dirinya untuk berkomunikasi secara bi/multilateral dengan baik, dewasa, argumentatif dan apalagi ilmiah. Mereka, seperti kasus Ja'far, masih terbiasa menjadi pelakon monolog yang berbicara satu arah tanpa mengesampingkan dialog. Jangankan ketika menghadapi ilmuwan semacam DR Aditjondro, terhadap Gus Dur pun yang sesama Islam sosok Ja'far betul-betul asbun tanpa memiliki eksplanasi yang argumentatif.
  2. ustadz semacam Ja'far masih sangat patriarkhis garis pemikirannya. Dengan mengolok-olok omongan DR Aditjondro tak lebih seperti gosip ibu2 PKK, maka Ja'far dengan tegas memberi alamat bagi omongan yang dianggap tidak bermutu adalah milik perempuan. Ini memprihatinkan.
  3. Ja'far telah membuat pelecehan akademis/intelektual terhadap dua pihak, yakni kampus UIN dan sosok DR Aditjondro. Dia melecehkan konteks ruang akademik/intelektual yang dibangun di UIN, dan sekaligus terhadap DR Aditjondro yang dinafikkan seluruh kajian dan data empiriknya sebagai ilmuwan dan peneliti.
  4. kita bisa beroleh kesan teramat kuat bahwa Ja'far Umar Thalib adalah ustadz preman.

Apa boleh buat?